Jumat, 03 Mei 2019

Pengaruh Sistem pendidikan industri Revolusi melinial 4.0


Pengaruh Sistem pendidikan industri  Revolusi melinial 4.0
 


Ayu Riskawati
Pendidikan merupakan jantung untuk mempersiapkan generasi sekarang dan masa depan terus berkembang, serta lebih mengembangkan potensi manusia ketimbang mengadu domba dengan mesin perjalanan generasi sekarang berada pada Revolusi Industri 4.0. Revolusi Industri 4.0 menawarkan kemungkinan bagi dunia pendidikan untuk menemukan solusi baru dalam menghadapi tantangan global dan peluang-peluang pekerjaan yang belum ditemukan (GrahamBrown-Martin, 2017).

Peran Pendidikan Dalam Membangun Moral Bangsa Di Era Disrupsi. Era Disrupsi sebenarnya berkaitan dengan perubahan konsep dalam dunia teknologi yang dikenal dengan revolusi industri 4.0. Revolusi Industri 4.0 pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Klaus Schwab Ekonom terkenal asal Jerman itu menulis dalam bukunya, The Fourth Industrial Revolution bahwa konsep itu telah mengubah hidup dan kerja manusia.

Era globalisasi adalah era perubahan dimana sesuatu yang sudah lama ada diperbarui dari segi  teknologi, budaya, politik, dan lain-lain. Dari semua itu banyak sekali perspektif dari para ahli bahwa globalisasi sangat bagus untuk setiap perubahan baik maupun buruk. Perkembangan teknologi digital di era Industri 4.0 saat ini telah membawa perubahan dan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk di bidang pendidikan.

Sistem pendidikan nasional melahirkan generasi-generasi yang berkualitas dengan cirinya iman, ilmu dan amal. Wujud pemberian materi keagamaan dan materi pendidikan moral. sebagai pendidikan yang berbeda dari jenis pendidikan lainnya harus memiliki karakteristik sebagai berikut:
1.      berorientasi pada kinerja individu dalam dunia kerja
2.      justifikasi khusus pada kebutuhan nyata di lapangan
3.      fokus kurikulum pada aspek-aspek psikomotorik, afektif, dan kognitif
4.      tolok ukur keberhasilan tidak hanya terbatas di sekolah
5.      kepekaan terhadap perkembangan dunia kerja
6.      memerlukan sarana dan prasarana yang memadai dan
7.      adanya dukungan masyarakat.

Adapun hubungan dunia pendidikan dengan revolusi industri 4.0. adalah dunia pendidikan dituntut harus mengikuti perkembangan teknologi yang sedang berkembang pesat serta memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi sebagai fasilitas lebih dan serba canggih untuk memperlancar proses pembelajaran. Teknologi komunikasi dan informasi selaitu juga pusat penyampaian pengajaran dan pembelajaran.

Menurut Menteri Pendidikan Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, dua di antara lima elemen penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan daya saing bangsa di era Revolusi Industri 4.0, yaitu adalah:
1.      Terobosan dalam riset dan pengembangan yang mendukung Revolusi Industri 4.0 dan ekosistem riset dan pengembangan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas riset dan pengembangan di Perguruan Tinggi, Lembaga Litbang, Industri dan Masyarakat
2.      Terobosan inovasi dan perkuatan sistem inovasi untuk meningkatkan produktivitas industri dan meningkatkan perusahaan pemula berbasis teknologi.










Share:

Kamis, 02 Mei 2019

Menerapkan Keterampilan Konseling


Konseling
Konseling adalah proses pemberian bantuan yang diberikan oleh seorang konselor kepada individu yang sedang mengalami suatu permasalahan yang tidak bisa ia selesaikan sendiri. Konseling dimaksudkan untuk memebantu klien mengembangkan beragam cara yang lebih positif untuk menyikapi hidup. Konseling juga bertujuan untuk mengantisipai berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami klien. Membantu konseli untuk memahami potensi yang ada pada dirinya.
Konselor
Konselor adalah pihak yang membantu klien dalam proses konseling. Seseorang yang ingin menjadi konselor haruslah menempuh pendidikan sebagai seorang konselor, dan juga mengikuti kursus dan pelatihan yang telah terakreditasi. Seorang konselor haruslah mengerti psikologi dan proses perkembangan mental manusia, memahami teori konseling dan pendekatan-pendekatan teoritisnya. Konselor tidak hanya berperan sebagai seseorang yang membantu menyelesaikan masalah klien. Tetapi konselor juga berperan sebagai guru, penasihat, dan konsultan yang mendampingi klien selama proses konseling berlangsung. Konselor harus dapat menerima dan memahami klien. Seperti, kepribadian klien, harapan klien, pengalaman dan pendidikan klien serta aneka ragamklien (klien sukarela, terpaksa, krisis, enggan dan klien bermusuhan atau menentang). Setiap konselor haruslah memiliki karakteristik sebagai beriku:
1.      Congruence
Pengertian congruen disini adalah seorang konselor terlebih dahulu harus memahami dirinya sendiri. Antara pikiran, perasaan, dan pengalaman harus serasi. Konselor harus sungguh-sungguh menjadi diri sendiri, tanpa menutupi kekurangan yang ada pada dirinya.
2.      Unconditional Positive Regard
Konselor harus dapat menerima klien walaupun dengan keadaan yang tidak dapat diterima oleh lingkungan. Setiap individu menjalin kehidupannya dengan membawa segala nilai-nilai dan kebutuhan yang dimilikinya. Situasi konseling harus menciptakan hubungan kasih sayang yang mendatangkan efek konstruksi pada diri klien sehingga klien dapat memiliki kemampuan dalam memberi dan menerima cinta.
3.      Empathy
Empathy adalah memahami seseorang dari sudut kerangka berfikirnya. Selain itu empati yang dirasakan juga harus ditunjukkan. Konselor harus dapat menyingkirkan nilai-nilainya sendiri tetapi tidak boleh ikut terlarut di dalam nilai-nilai klien. Seperti mampu memahami bagaimana dilema seorang klien yang melakukan hubungan seksual pranikah dengan tidak langsung menilainya sebagai perbuatan tercela dan menghakimi klien sebagai manusia hina.

Yang Bisa Menerapkan Keterampilan Konseling
Membantu memecahkan masalah orang lain, juga bisa dilakukan oleh orang yang tidak pernah menempuh pendidikan sebagai seorang konselor. Untuk menerapkan keterampilan tidak harus menjadi konselor terlebih dahulu. Melakukan konseling dan menerapkan dasar konseling dalam kehidupn sehari-hari merupakan hal yang berbeda, meskipus dalam sebuah kontinum yang sama. Sebenarnya keterampilan konseling sudah ada pada masing-masing individu. Seperti, pendengar yang baik, merasa empati, merasa simpati, tulus membantu orang lain, dan dapat dipercaya. Dalam percakapan di kehidupn sehari-hari penerapan keterampilan konseling sangatlah membantu. Agar lawan bicara bisa mengungkapkan apa yang ingin ia katakan dan juga mengungkapkan perasaan yang sedang ia rasakan.
Share:

Keterampilan-Keterampilan Konseling


Nama                           : Fransiska Audiah
Kelas/NIM                  : BKI 4A/ 1721013
Dosen Pengampu        : Rafles Abdi Kusuma, M.A

Disini penulis akan sedikit menjelaskan tentang beberapa keterampilan-keterampilan dalam Konseling.
A.      Keterampilan-Keterampilan Konseling
1.      Keterampilan Attending
Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata, bahasa tubuh, dan bahasa lisan. Adapun manfaat perilaku attending yang baik yaitu dapat meningkatkan harga diri klien, menciptakan suasana yang aman dan mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas.
2.      Keterampilan Observasi
Keterampilan yang paling penting yang dihasilkan atau yang diperlakukan oleh “attending” secara pribadi adalah keterampilan mengobservasi. Mengobservasi adalah sumber dari belajar konselor tentang klien. Konselor belajar sesuatu tentang orang atau klien melalui observasi terhadapnya.Ekspresi verbal adalah sumber input yang paling sering digunakan dalam proses konseling. Apa-apa yang dikatakan dan bagaimana mengatakannya adalah merupakan tentang cara klien melihat dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya.
3.      Keterampilan Empati
Empati ialah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien, merasa dan berfikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien. Empati dilakukan sejalan dengan perilaku attending, tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati.Terdapat dua macam empati, yaitu:
·      Empati primer, yaitu bentuk empati yang hanya berusaha memahami perasaan, pikiran dan keinginan klien, dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka.
·      Empati tingkat tinggi, yaitu empati apabila kepahaman konselor terhadap perasaan, pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih mendalam dan menyentuh klien krena konselor ikut dengan perasaan tersebut.
4.      Keterampilan Refleksi Perasaan
Refleksi adalah teknik untuk menentukan kembali kepada Klien tentang perasaan, pikiran dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbalnya.

5.      Keterampilan Eksplorasi
Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan, pikiran, dan pengalaman Klien. Hal ini penting dilakukan karena banyak Klien menyimpan rahasia batin, menutup diri, atau tidak mampu mengemukakan pendapatnya. Dengan teknik ini memugkinkan Klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut, tertekan dan terancam.
6.      Keterampilan Menangkap Pesan Utama (Paraphrasing)
Menangkap pesan (paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau inti ungkapkan Klien dengan teliti mendengarkan pesan utama Klien, mengungkapkan kalimat yang mudah dan sederhana, biasanya ditandai dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya, dan mengamati respons Klien terhadap Konselor.Tujuan paraphrasing adalah : (1) untuk mengatakan kembali kepada Klien bahwa Konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan Klien; (2) mengendapkan apa yang dikemukakan Klien dalam bentuk ringkasan; (3) memberi arah wawancara Konselornseling; dan (4) pengecekan kembali persepsi Konselor tentang apa yang dikemukakan Klien.
7.      Keterampilan Pertanyaan Terbuka (Opened Question) dan Pertanyaan tertutup (Closed Question)
Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk memancing Klien agar mau berbicara mengungkapkan perasaan, pengalaman dan pemikirannya dapat digunakakan teknik pertanyaan terbuka (opened question). Pertanyaan yang diajukan sebaiknya tidak menggunakann kata tanya mengapa tau apa sebabnya. Pertanyaan semacam ini akan menyulitkan Klien, jika dia tidak tahu alasan atau sebab-sebabnya . oleh karenanya, lebih baik gunakan kata tanya apakah, bagaimana, adakah, dapatkah.
8.      Keterampilan Dorongan minimal (Minimal Encouragement)
Dorongan minimal adalah teknik memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemukakan klien. Misalnya dengan menggunakan ungkapan : oh.., ya.., lalu.., terus…, dan…
9.      Keterampilan Interpretasi
Interpretasi yaitu teknik untuk mengulas pemikiran, perasaan dan pengalaman klien dengan merujuk pada teori-teori, bukan pandangan subyektif konselor, dengan tujuan untuk memberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dari hasil rujukan baru tersebut.


10.  Keterampilan Mengarahkan (Directing)
Mengarahkan yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melakukan sesuatu. Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau menghayalkan sesuatu.
11.  Keterampilan Menyimpulkan sementara (Summarizing)
Summarizing yaitu teknik untuk menyimpulkan sementara pembicaraan sehingga arah pembicaraan semakin jelas. Tujuan menyimpulkan sementara adalah untuk: (1) memberikan kesempatan kepada Klien untuk mengambil kilas balik dari hal-hal yang telah dibicarakan; (2) menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap; (3) meningkatkan kualitas diskusi; (4) mempertajam fokus pada wawancara konseling.
12.  Keterampilan Memimpin (Leading)
Agar pembicaraan dalam wawancara konseling tidak melantur atau menyimpang, seorang konselor harus mampu memimpin arah pembicaraan sehingga nantinya mencapai tujuan. Keterampilan memimpin bertujuan agar Klien tidak menyimpang dari fokus pembicaraan dan juga agar arah pembicaraan lurus kepada tujuan Konseling.


Hanya ini yang dapat penulis tuliskan semoga bermanfaat untuk kita semua. Terima kasih.
Share:

BTemplates.com